|

Kasus Pencabulan "Homo Seks" di Morotai Bakal Ditahap Satu

Kapolres Pulau Morotai, AKBP. Andri Iskandar (foto istimewa).
MOROTAI, BRN - Kapolres Pulau Morotai, AKBP. Andri Iskandar mengungkapkan kasus dugaan pencabulan sesama jenis (homo seks) yang dilakukan MJ alias Bayu oknum PNS di Dinas Perpustakaan Pemkab Morotai terhadap ketiga siswa SMP dalam tahap penyelidikan. “Sementara dalam proses, dalam waktu dekat sudah ditahap satu,” ucapnya kepada sejumlah awak media diruang kerjanya, Senin (5/2/2018).

Dalam proses penyelidikan pada kasus pencabulan sesama jenis, kata dia, belum ditemukan korban tambahan, karena polisi telah turun ke sekolah dimana ketiga siswa menjadi korban pencabulan sesama jenis itu tapi belum ditemukan adanya korban tambahan.

“Sudah kami sampaikan ke pihak sekolah, jika terdapat siswa lainnya menjadi korban, segera melapor ke Polres, tapi sejauh itu belum ada yang melapor,” katanya.

Selain belum ada laporan dari pihak sekolah, lanjut dia, sesuai dengan hasil penyelidikan belum ada bukti lain yang mengarah adanya korban tambahan. “Sejauh ini belum ada korban tambahan,” tutupnya.

Sekedar diketahui, peristiwa kasus pencabulan sesama jenis terjadi pada, Sabtu (17/2/2018) tepatnya di Kantor Perpustakaan Daerah yang terletak di Desa Darame, Kecamatan Morotai Selatan (Morsel) sekitar pukul 11.00 Wit. Bermula dari keenam siswa SMP bermain bola di teras Kantor Perpusatakan Daerah saat jam sekolah berlangsung. Salah satu dari mereka tidak sengaja menendang bola dan mengenai didinding kantor. Pelaku yang berada didalam ruangan kantor itu merasa terusik dan keluar lantas mengambil bola lalu dibawa kedalam ruangan kantor tempat dimana dia bekerja.

Setelah bola itu diamankan pelaku, dari keenam siswa itu, tiga diantaranya memutuskan untuk pergi lebih dulu dan tiga siswa lainnya memutuskan menemui pelaku untuk mengambil bola. Namun ketiga siswa itu dimarahi pelaku dan mengatakan “teras kantor dilarang untuk bermain bola”. Ketiga siswa yang menjadi korban homo seks itu diketahui berinsial, MB, EP dan AT.

MB lalu diperintahkan pelaku untuk memanggil ketiga rekan lainnya yang telah pergi, sementara EP diperintahkan membeli air mineral (aqua) sekaligus membaca larangan tepatnya didepan kantor. Sedangkan AT tinggal seorang diri dalam ruangan kantor, entah setan apa yang merasuki otak pelaku, AT kemudian diperintahkan masuk kedalam ruang kerja perlaku dan diajak menonton film porno yang diputar pelaku.

Mengetahui film tersebut tidak pantas ditonton, AT lantas menolak menonton dan meminta pelaku mematikan filmnya. AT kemudian mendekat dan memastikan laptop yang digunakan pelaku itu benar-benar sudah dimatikan. Disaat brdekatan, Pelaku menanyakan AT apakah kelaminnya sudah ditumbuhi bulu-bulu atau belum, AT dengan tegas menjawab bahwa kelaminnya belum ditumbuhi bulu. Pelaku kemudian memerintahkan korban untuk melucuti celananya untuk memastikan jawaban yang disampaikan korban, karena korban diancam jika tidak melucuti celananya tidak akan dikeluarkan dari ruangan, korban yang selimuti ketakutan  lantas mengikuti kemauan pelaku dengan membuka celananya, pelaku kemudian memegang kelamin korban.

Setelah berhasil melaksanakan aksinya terhadap korban pertama, pelaku pemerintahkan korban kedua EP untuk masuk kedalam ruangan pelaku, EP menjadi korban selanjutnya, korban hanya berdiri diluar ruangan dan mengetahui apa-apa diprintahkan masuk, pelaku melakukan aksi serupa terhadap korban kedua. Setelah berhasil melakukan aksinya terhadap EP dan AT. Korban ketiga MB yang tidak mengetahui keduanya temannya telah dicabuli, karena diperintahkan memanggil ketiga temannya kabur duluan, lantas masuk keruangan korban untuk melaporkan kepada pelaku, ketiga temannya tidak berhasil ditemui, MB juga mendapatkan perlakukan yang sama seperti, kedua temannya. Setelah berhasil menjalankan aksinya terhadap ketiga korban, ketiga korban diperintahkan menunggu ketiga teman lainnya dan sambil mimun aqua yang dibeli pelaku. Setelah ketiga teman yang pergi duluan sebelum pristiwa terjadi menemui ketiga korban didalam kantor, pelaku lantas memerintahkan keenam siswa yang dibawah umur itu pulang ke rumah masing-masing, ketiga korban yang trauma dengan aksi pencabulan yang dialami lantas melaporkan pristiwa yang mereka alami ke kedua orang tua mereka.

Orang tua korban yang tidak terima anak mereka mendapatkan perlakukan senono dari pelaku, lantas melaporkan pelaku ke salah satu gurunya, Jecklin. Berselang berapa hari kemudian guru Bahasa Indonesia dan ketiga orang tua korban itu lantas melaporkan pelaku ke Mapolres Pulau Morotai. (Fix/red)
Komentar

Berita Terkini