|

Diduga Ada Siswa Siluman Ikut Ujian di SMA N 6

Ilustrasi pengisian LJK
TERNATE, BRN – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah (kepsek) Negeri 6 Kota Ternate, Arus Laesa bersama Wakil Kepsek Kesiswaan Gisan Naser diduga mengikut sertakan tujuh siswa siluman dalam pelaksaan ujian sekolah (US) serta ujian nasional (UN) 2018. Keikut sertaan tujuh siswa-siswa yang diketahui tidak pernah mengikuti proses belajar mengajar dari kelas 1 sampai kelas 3 itu menimbulkan polemik.

Menurut informasi yang dihimpun, pihak sekolah memungut biaya yang bisa dibilang lumayan besar dari ke tujuh siswa-siswa yang diikutkan sebagai peserta ujian. Tujuh siswa tersebut diantaranya, Fahmi Mukaram, Indrila Said, Safira Sahrudin, Sukri Rauf, Wa Ode Deliarti, Wahyuni Iswan, dan Yogi Hendrawan Abas.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Ombudsman RI perwakilan Maluku Utara, Sofyan Ali mengtakan, terkait kasus tersebut, Ombudsman akan segera melakukan investigasi lebih jauh. Jika terbukti, Plt Kepsek dan Wakil Kepsek Kesiswaan SMA N 6 Kota Ternate sudah termasuk melakukan bentuk perbuatan maladministrasi. “ Akan dilakukan investigasi untuk membuktikan kebenarannya, dan ini tidak bisa didiamkan Dikbud Provinsi,” tandas Sofyan.

Dirinya menambahkan, meskipun kasus dugaan maladministrasi itu sering dijumpai Ombudsman, akan tetapi Ombudsman meyakini kasus yang dimaksud tersebut pernah terjadi di dua sekolah di Halmahera Selatan. “ Banyak terjadi di sekolah-sekolah yang ada di Malut, kasus ini juga pernah terjadi di SMA N 25 dan SMA N 16 di Kabupaten Halmahera Selatan,” ucapnya, Rabu (21/3/2018).

Kata dia, meski sering diterjadi, akan tetapi Dikbud Malut tidak pernah memberikan sanksi apapun kepada kepala sekolah yang melanggar  aturan. Dalam kacamata Dikbud itu hanya perbuatan yang tidak melanggar aturan. Namun sebagai lembaga pengawas pelayanan publik, Ombudsman akan aktif menindaklanjuti segala keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan publik termasuk di bidang pendidikan. “ Sangat yakin pihak Dikbud tidak akan memberikan sanksi apa-apa,” terangnya.

Kendati demikian, Sofyan menegaskan akan merekomendasikan keduanya untuk dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. “Yang pasti akan disanksi, karena sudah melakukan penyelewengan administrasi,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Kepsek SMA N 6 Arus Laesa ketikan dikonfirmasi membantah adanya 7 siswa siluman yang diikut sertakan sebagai peserta ujian tahun ini. “ Tidak benar dan tidak ada siswa siluman,” ujarnya.

Arus mengatakan, siswa yang terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan biodata ujian (bio-UN) siswa sebanyak 45 siswa. Akan tetapi memasuki waktu pelaksaan ujian, 5 siswa tersebut tidak diikutkan sebagai peserta ujian lantaran tidak mengumpulkan atau melengkapi administrasi sebagai peserta ujian. “ Selain tidak melengkapi administrasi, 5 siswa itu juga sudah ada yang menikah dan sebagiannya lagi kehidirannya kurang dari 80 persen alias datang ke sekolah hanya senin-kamis,” katanya.

Mantan Wakasek Kurikulum ini juga mengaku, pengusulan data siswa  sebagai peserta ujian itu dilakukan pada bulan Juli memasuki Agustus 2017, yang mana itu masih kepemimpinan kepala sekolah sebelumya. Dan kurang lebih dua bulan pihak sekolah selalu mengingatkan kepada siswa agar segera melengkapi seluruh administrasi yang di syaratkan dalam pelaksaan ujian. “Sudah jauh-jauh hari sekolah sudah mengingatkan untuk segera melengkapi syarat-syarat sebagai peserta ujian, akan tetapi para siswa ini tidak melengkapi hingga pelaksaan ujian,” akunya.

Sementara itu,  Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) Kesiswaan, Gisan Naser menambahkan, tuduhan adanya 7 siswa siluman yang dikabarkan itu tidak benar adanya. “Itu tidak benar, dan tidak pungutan papun dari pihak sekolah apalagi meminta uang,” cetusnya. 

Kata dia, pembatalan atau dipendingnya ke-5 siswa tersebut karena tidak melengkapi administrasi sebagaimana di syaratkan dalam peserta ujian. “ Pas foto, ijazah terakhir, serta administrasi yang lain juga tidak lengkap bagaiman bisa kita ikutkan dalam ujian,” imbuhnya. (emis/brn).
Komentar

Berita Terkini