|

Diduga Cabuli Anak Dibawah Umur, Oknum PNS Morotai Diancam 15 Tahun Penjara

Polres saat menggelar jumpa pers dengan awak media terkait dugaan kasus pencabulan, Sabtu (24/2/2018).
MOROTAI, BRINDOnews.com - Nama baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai kembali tercoreng. Ini ketahui setelah Muhammad Jabar (27) alias Bayu dilaporkan ke Polres setempat dengan dugaan kasus pencabulan. MJ yang juga salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Perpustakaan Daerah Pulau Morotai ini diduga kuat melakukan pencabulan sesama jenis (homo seks) terhadap anak dibawah umur. Kejadian itu terungkap setelah siswa yang menjadi korban hubungan sesama jenis melaporkan apa yang dialami kepada orang tua mereka.

Dari informasi yang dihimpun reporter Brindonews.com, peristiwa terjadi pada Sabtu (17/2/2018) tepatnya di Kantor Perpustakaan Daerah yang terletak di Desa Darame, Kecamatan Morotai Selatan (Morsel) sekitar pukul 11.00 Wit. Bermula dari keenam siswa SMP bermain bola di teras Kantor Perpusatakan Daerah saat jam sekolah berlangsung. Salah satu dari mereka tidak sengaja menendang bola dan mengenai didinding kantor. Pelaku yang berada didalam ruangan kantor itu merasa terusik dan keluar lantas mengambil bola lalu dibawa kedalam ruangan kantor tempat dimana dia bekerja.

Setelah bola itu diamankan pelaku, dari keenam siswa itu, tiga diantaranya memutuskan untuk pergi lebih dulu dan tiga siswa lainnya memutuskan menemui pelaku untuk mengambil bola. Namun ketiga siswa itu dimarahi pelaku dan mengatakan “teras kantor dilarang untuk bermain bola”. Ketiga siswa yang menjadi korban homo seks itu diketahui berinsial, MB, EP dan AT.

MB lalu diperintahkan pelaku untuk memanggil ketiga rekan lainnya yang telah pergi, sementara EP diperintahkan membeli air mineral (aqua) sekaligus membaca larangan tepatnya didepan kantor. Sedangkan AT tinggal seorang diri dalam ruangan kantor, entah setan apa yang merasuki otak pelaku, AT kemudian diperintahkan masuk kedalam ruang kerja perlaku dan diajak menonton film porno yang diputar pelaku.

Mengetahui film tersebut tidak pantas ditonton, AT lantas menolak menonton dan meminta pelaku mematikan filmnya. AT kemudian mendekat dan memastikan laptop yang digunakan pelaku itu benar-benar sudah dimatikan. Disaat brdekatan, Pelaku menanyakan AT apakah kelaminnya sudah ditumbuhi bulu-bulu atau belum, AT dengan tegas menjawab bahwa kelaminnya belum ditumbuhi bulu. Pelaku kemudian memerintahkan korban untuk melucuti celananya untuk memastikan jawaban yang disampaikan korban, karena korban diancam jika tidak melucuti celananya tidak akan dikeluarkan dari ruangan, korban yang selimuti ketakutan  lantas mengikuti kemauan pelaku dengan membuka celananya, pelaku kemudian memegang kelamin korban.

Setelah berhasil melaksanakan aksinya terhadap korban pertama, pelaku pemerintahkan korban kedua EP untuk masuk kedalam ruangan pelaku, EP menjadi korban selanjutnya, korban hanya berdiri diluar ruangan dan mengetahui apa-apa diprintahkan masuk, pelaku melakukan aksi serupa terhadap korban kedua. Setelah berhasil melakukan aksinya terhadap EP dan AT. Korban ketiga MB yang tidak mengetahui keduanya temannya telah dicabuli, karena diperintahkan memanggil ketiga temannya kabur duluan, lantas masuk keruangan korban untuk melaporkan kepada pelaku, ketiga temannya tidak berhasil ditemui, MB juga mendapatkan perlakukan yang sama seperti, kedua temannya. Setelah berhasil menjalankan aksinya terhadap ketiga korban, ketiga korban diperintahkan menunggu ketiga teman lainnya dan sambil mimun aqua yang dibeli pelaku. Setelah ketiga teman yang pergi duluan sebelum pristiwa terjadi menemui ketiga korban didalam kantor, pelaku lantas memerintahkan keenam siswa yang dibawah umur itu pulang ke rumah masing-masing, ketiga korban yang trauma dengan aksi pencabulan yang dialami lantas melaporkan pristiwa yang mereka alami ke kedua orang tua mereka.

Foto: Pelaku pencabutan terhadap tiga annak yang masih 
dibawa umur
Orang tua korban yang tidak terima anak mereka mendapatkan perlakukan senono dari pelaku, lantas melaporkan pelaku ke salah satu gurunya, Jecklin. Berselang berapa hari kemudian guru Bahasa Indonesia ketiga korban itu lantas melaporkan pelaku ke Mapolres Pulau Morotai.

Jecklin guru ketiga korban kepada wartawan, Sabtu (24//2/2018), sangat menyesalkan pristiwa yang dialami siswanya. “Sesuai dengan keterangan korban, pelaku bilang hukuman itu kalau dipukul biasa, tapi harus diberi hukuman lebih berat dari itu, dan pelaku menyuruh MS dan EL diluar, sementara AL langsung ditarik ke dalam ruangan kantor pelaku bekerja langsung melakukan aksinya. Sebagai guru merasa kasian anak-anak masi dibawah umur mengalami pristiwa seperti ini,” katanya.

Saat AL ditarik didalam kantor, pelaku langsung memperlihatkan film porno dari laptop kepada AL, namun AL menolak dengan dalih,  film yang ditunjukkan tidak pantas ditonton. "Ketika laptop dimatikan, pelaku langsung menarik korban dan membuka celana korban, dan mengancam jika korban tidak mau kelaminnya dipegang, maka  pelaku tidak akan membuka pintu dan tidak akan menyerahkan bola tersebut, "cetusnya.

Lanjut, Jecklin setelah berhasil menjalankan aksi terhadap AL, pelaku kemudian melanjutkan aksinya terhadap EL dan MS, setelah berhasil melakukan aksi, ketiga korban kemudian diberi uang masing-masing  sebesar Rp 10 ribu sebagai uang tutup mulut agar tidak menceritakan pristiwa yang terjadi terhadap siapapun. “Kami bersama ketiga orang korban, telah melaporkan pelaku, muda-mudahan kasus ini diproses sesuai dengan hukum yang berlaku dan pelaku mendapat hukuman yang setimpal sesuai perbuatannya,” harapnya.

Sementara, Kadis Perpustakaan, Alfatah Sibua saat dikonfirmasi mengakui telah mengetahui kasus pencabulan yang sudah dilakukan bawahannya. Namun Alfatah menuturkan tidak bakal melindungi bawahannya yang tersandung persoalan hukum. “Silahkan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,” singkatnya.

Kapolres Pulau Morotai, AKBP Andri Iskandar, Sabtu (27/2/2018) bersama jajarannya lantas menggelar jumpa pers di Mapolres terkait persoalan yang dimaksud dalam keterangannya, Andri membenarkan, bahwa kasus dugaan pencabulan dibawah umur telah dilaporkan secara resmi dan telah ditangani, pelaku juga sudah diamankan di sel Mapolres. “Pelaku diancam dengan pasal 82 ayat 1 dan 5 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 Pengganti Peraturan Pemerintah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jonto 64 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun penjara, “tegasnya.

Saat ini, kata Andri kasus tersebut dalam lidik, namun SPJnya telah diserahkan ke Kejari Morotai. “Tinggal berkasnya dilengkapi,” tutupnya. (Fix/red)
Komentar

Berita Terkini