|

Terindikasi Terlibat Suap, KPK Diminta Adili Rudy Erawan


TERNATE,BRINDOnews.com - Terbukti menerima uang dari Imran Djumadil, untuk kepentingan Pilkada tahun 2015 di Halmahera Timur, Komisi Pembrantasan Korupsi diminta segera adili Bupati Haltim Rudy Erawan yang juga kandidat bakal calon gubernur Maluku Utara. Atas dasar putusan Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta Pusat, KPK harus menjadikan sebagai bukti petunjuk untuk meyelesaikan kasus suap.
"KPK jangan melihat berapa besar uang yang diterima Rudy Erawan, akan tetapi harus melihat tindakan dan perbuatannya. Perlu diketahui masalah putusan pengadilan ini bukan delik materil tetapi delik formil yang menitik beratkan kepada perbuatan Rudy Erawan yang juga public figure untuk secepatnya menyusul Amran Mustary di tahanan KPK." ungkap ketua DPC Kongres Advokat Indonesia Tidore (KAI) Kepulauan Tidore Roslan kepada wartawan Rabu (3/1/2017)
Kata dia, Seharusnya seorang bupati itu menjadi contoh yang baik. Keputusan ini kan sudah inkrah, olehnya itu Saksi Rudy Erawan bisa ditingkatan menjadi tersangka karena yang bersangkutan juga terlibat dengan menerima uang tunai senilai  Rp 6.1 miliar, ujanya
Lanjutnya, putusan ini menjadi dasar hukum untuk ditetapkan sebagai tersangka, sebab dalam putusan ini juga sudah membuktikan bahwa Rudy Erawan menerima uang tunai. KPK jangan main-main dengan kasus ini. Bukti persidangan yang di cantumkan melalui putusan itu sudah jelas. Olehnya itu, KPP segera menetapkan Rudy Erawan sebagai tersangka kasus penerima suap dari Imran Djumadil dan terdakwa Amran Mustary, tegasnya.
Perlu juga diketahui kronologis memberi dan menerima uang tunai senilai Rp 6,1 miliar yang dicantumkan dalam putusan nomor :129/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Jkt.PST menjelaskan.
Dalam keterangan Saksi Imran S. Djumadil b ahwa sekira bulan Juli 2015 atau beberapa hari setelah terdakwa (Amran Hi. Mustary) dilantik menjadi Kepala BPJN IX Maluku dan Maluku Utara bertempat diloby hotel Lumire Senen Jakarta Pusat saksi (Imran S. Djumadil) mengikuti pertemuan dengan terdakwa, Hong Artha John Alfred, Abdul Khoir dan Dzulkhairi Muchtar alias Heri yang merupakan kontraktor di Maluku.
Masih kata Imran bahwa beberapa hari setelah pertemuan tersebut saksi dihubungi oleh Heri bahwa ada uang pemberian Abdul Khoir dan Hong Artha John Alfred untuk terdakwa sebesar Rp. 6.000.000.000.00,- (Enam miliar rupiah) dalam bentuk mata uang Dollar Amerika (USD) dalam dua paket bungkusan, uang tersebut saksi terima dari Heri didepan sebuah Hotel di jalan Gajah Mada Jakarta Pusat.
Keesokan harinya saksi ditelpon terdakwa menanyakan uang titipan Heri tersebut dan terdakwa meminta saksi menyerahkannya di Hotel Ambhara. Selanjutnya saksi meluncur ke hotel Ambhara dan bertemu Abdul Khoir kemudian bersama-sama menuju kamar tempat terdakwa. Dikamar tersebut sudah ada terdakwa dan Iqbal Tamher lalu Abdul Khoir menyerahkan uang tersebut kepada terdakwa. Uang yang saksi serahkan kepada terdakwa melalui Abdul Khoir tersebut sebanyak Rp. 3.000.000.000.00,- (tiga miliar rupiah), sedangkan sisanya sebesar Rp. 3.000.000.000.00,- (Tiga miliar rupiah) saksi simpan di mobil saksi.  Kemudian setelah uang tersebut diserahkan selanjutnya terdakwa, Abdul Khoir, dan Iqbal Tahmer berangkat ke Kementerian PUPR sedangkan saksi langsung pulang.
Pada malam harinya terdakwa Amran Hi. Mustary menanyakan sisa uang yang masih ada pada saksi (Imran S. Djumadil) sebesar Rp. 3.000.000.000.00,- (tiga miliar rupiah) lalu saksi antarkan kepada terdakwa di Hotel Ambhara, setelah saksi serahkan kepada terdakwa selanjutnya terdakwa mengajak saksi menemui Rudy Erawan di Delta Spa Pondok Indah Jakarta untuk menyerahkan uang tersebut.
Uang diserahkan oleh terdakwa  Amran Hi. Mustari pada saat bertemu  dengan Rudy Erawan membicarakan mengenai adanya dana optimasi dari pusat atau on top dan terdakwa ingin agar Rudy Erawan dapat mengusulkan dna tersebut untuk ditempatkan di Maluku Utara.
Pemberian Uang Senilai 2,6 Miliar
Menurut keterangan Saksi Imram S. Djumadil sekitar Agustus 2015 Abdul Khoir mendatangi rumah saksi di Citra Gran Blok Brentwood RC 1 No. 10 Cibubur dan membawa 2 (dua) tas besar dan masuk ke saksi sambil mengatakan bahwa ini ada uang Rp. 2.600.000.000.00,- (dua miliar enam ratus juta rupiah) yang akan diserahkan kepada terdakwa Amran Hi. Mustary atas permintaannya, lalu saksi terima uang tersebut.
Kemudian saksi  Imran S. Djumadil beritahu terdakwa Amran Hi. Mustary  dan terdakwa mengatakan nanti bertemu di Hotel Ambhara. Keesokan harinya saksi sambil membawa tas berisi uang Rp. 2.600.000.000.00,- menemui terdakwa. Kemudian terdakwa meminta saksi mengantarkan terdakwa menemui Rudi Erawan di parkiran basement Delta Spa Pondok Indah Jakarta.
Diparkiran Basement Delta Spa Rudy Erawan mendekati mobil kami dan terdakwa meminta saksi menyerahkan tas berisi uang Rp. 2.600.000.000.00,- tersebut kepada Rudy Erawan. Kemudian saksi serahkan tas berisi uang Rp. 2.600.000.000.00,- tersebut kepada Rudi Erawan dan langsung dibawa pergi.
Menurut Imran S. Djumadil pemberian uang Rp. 2.600.000.000.00,- oleh terdakwa kepada Rudi Erawan adalah agar Rudi Erawan selaku Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku Utara memperjuangan dana Optimalisasi yang biasa disebut sebagai dana on Top untuk dialokasikan ke anggaran BPJN IX Maluku dan Maluku Utara.
Bupati Haltim Rudy Erawan yang juga kandidat bakal calon Gubernur Malut, saat dikonfirmasi via WhatshAp, enggan memberikan komentar (tim/red
Komentar

Berita Terkini